Rabu, 06 Februari 2013

FanFiction I find a Girl


Title : I find a girl
Author : Hyukiwife

Casts : Henry Lae, Diarra Tan and OC (Find By Yourself)
Length : Oneshot
Genre : , Humor, Romance

Seorang pemuda dengan paras tampan serta memiliki tubuh yang dapat di bilang mendekati kata sempurna, Kini terlihat bingung dengan jalanan yang di lewatinya. Berulang kali dirinya mengecek posisinya sekarang lewat GPS yang terpasang di mobilnya itu.
“Hah… Sial! Hanya karena aku harus menemui orang tua Hyemi, Kenapa sekarang aku harus tersesat di tempat seluas ini?!” Gerutu lelaki bernama lengkap Henry Lau itu, Atau sebut saja dia Henry.
Yah, Lelaki ini memang memiliki keturunan China-Kanada namun sudah hampir bertahun  tahun ini dia menetap di Korea Selatan, Tepatnya di Seoul. Dan jangan pikir jika ia tak dapat berbicara Hangul secara pasih! Karena kenyataannya, Ia dapat berbicara hangul dengan pasih.
Henry memutuskan untuk menyisikan mobilnya dan segera keluar dari dalam mobilnya itu. Ia melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil menampakkan wajah gusarnya.
“Kurasa aku benar-benar tersesat…” Lirih Henry sambil menyandarkan tubuhnya pada mobilnya.
Henry hendak masuk ke dalam mobilnya, Namun terhenti kala seseorang tiba-tiba saja mencekik leher Henry dengan lengannya dan menancapkan benda tumpul ke arah pinggul Henry.
“Jangan bergerak!! Atau nyawamu akan melayang!” Garang orang tersebut mengancamnya.
“Siapa kau?!” Henry tak mau kalah dari orang asing tersebut, Ia hendak melepaskan lengan lelaki itu dari lehernya.
“Jika kau bergerak, Aku akan menarik pelatuk pistol ini, Dan kau akan mati dalam seketika!” Ancam lelaki itu kemudian. “Sekarang angkat tanganmu!!”
Deg!!
Dalam seketika sekujur tubuh Henry langsung menjadi kaku, Dengan perlahan ia mengangkat kedua tangannya ke atas.
“Bagus…” Lelaki itu mengangguk, Melonggarkan sedikit cekikkannya.
Sret!
Bugh!!
Dengan gerakan yang cepat, Henry memukul dada lelaki itu dengan siku lengannya kemudian segera menjauh darinya setelah sebelumnya melayangkan pukulannya terhadap wajah lelaki tersebut.
“Ahk!! Sialan!” Umpat lelaki itu.
Henry menyeringai kecil, “Cih, Tidak memiliki kemampuan berkelahi tapi malah mencoba untuk merampok orang sepertiku. Kau benar-benar sudah salah menargetkan orang, Tuan!” Hardik Henry sambil menepuk-nepuk lengan kemejanya.
“Ck, Sialan! Kau menantangku, Huh?!” Teriak lelaki itu seraya beranjak dari posisinya.
“Oho, Kau masih bisa bangun rupanya? Baiklah, Ayo kita selesaikan ini dengan cepat!!”
Lelaki itu langsung berteriak keras sambil berlari cepat mendekati Henry, Ia hendak melayangkan sebuah tinjuan pada wajah Henry, Tapi dengan cepat Henry menunduk dan langsung menonjok perut lelaki itu hingga membuatnya tersungkur ke atas tanah.
“Ahk!!” Ringisnya.
Lagi-lagi Henry menyeringai puas, “Jangan harap kau bisa menyentuh wajahku, Arraseo?” Ujar Henry dengan nada yang terdengar angkuh.
“Sial!!” Lelaki itu mengelap bagian sudut bibirnya yang ternyata mengeluarkan dara. “Awas kau!”
Perkelahian kembali terjadi saat lelaki itu kembali beranjak dari posisinya dan hendak kembali melayangkan tinjuannya, Namun Henry yang pandai berkelahi itu tentu saja tak dapat kalah dengan mudah.
Ia selalu menangkis tinjuan lelaki itu, Kemudian di saat ia merasa ada kesempatan, Henry segera saja menonjok dada serta perut lelaki itu. Tak hanya di situ, Ia pun berulang kali mendaratkan pukulan kerasnya terhadap wajah lelaki itu dan terakhir dengan sekuat tenaga Henry langsung menendang lelaki itu.
“ARGH!!” Ia mengerang keras karena rasa sakit yang di terimanya dari pukulan Henry yang bertubi-tubi.
Henry berjalan mendekati lelaki itu kemudian berjongkok di hadapan lelaki yang sudah tidak berdaya lagi itu. “Kau benar-benar membuang waktuku, Tuan…” Desis Henry.
“Benarkah?” Lelaki asing itu justru menyeringai licik pada Henry. Hal ini tentu saja membuat Henry mengerutkan keningnya bingung. “Coba kau lihat ke belakangmu, Anak muda…” Suruhnya.
Henry lantas menoleh ke belakang dan ia tertegun begitu mendapati beberapa lelaki dengan perawakan besar dan bertato kini tengah berada tak jauh dari dirinya, Dan parahnya lagi mereka membawa pistol serta beberapa  benda tajam lainnya.
“Ha ha… Kau pikir aku akan merampok seorang diri. Tentu saja tidak, Dasar bodoh!” Hardik lelaki itu.
Henry menatap kesal ke arah lelaki tersebut, “Damn!!” Umpatnya sambil menghela nafas berat.
“Angkat tanganmu, Nak! Atau kami akan membunuhmu!!” Teriak salah satu dari mereka sambil mengacungkan pistolnya ke hadapan Henry. Ia berjalan angkuh ke hadapan Henry.
Henry  masih terdiam, Menatap para perampok sejumlah 5 orang itu tengah mengepung dirinya lengkap dengan senjata yang di bawa mereka.
“Angkat tanganmu atau kami tembak!!” Teriak salah satu dari mereka lagi.
Tanpa berkata-kata, Henry langsung saja mengangkat kedua tangannya ke atas sambil tetap menatap tajam ke arah mereka semua. “Sial, Jika mereka membawa senjata tajam, Bagaimana bisa aku melawan mereka? Aku sudah jelas kalah telak oleh mereka semua!!” Gumam Henry dalam batinnya.
Bugh!
Lelaki yang sempat di hajar habis-habisan oleh Henry tadi, Langsung beranjak dari posisinya dan memukul leher Henry dengan balok yang di ambilnya.
“Ahk!” Henry terjatuh sambil memegangi lehernya yang terasa nyeri itu.
“Cepat masuk dalam mobilnya, Dia pintar berkelahi, Kita tidak punya banyak waktu lagi!!” Ujar lelaki itu kemudian bergegas masuk mobil Henry di ikuti perampok lainnya yang membawa mobil lain.
Henry tak tinggal diam, Ia segera berlari mendekati mobil itu dan hendak menyeret lelaki itu, Tapi sayangnya lelaki itu telah mengunci mobilnya dari dalam dan mobil itu pun langsung melesat dengan cepat meninggalkan Henry sendiri di tempat itu tanpa sepeser uang pun!!
“ARGH!! Sial!!” Henry menendang udara kosong untuk meluapkan kekesalannya. “Brengsek!!” Umpatnya emosi.
Henry menjatuhkan tubuhnya ke atas aspal, Ia mendesah panjang sambil menatap langit yang mulai gelap, Menandakan hari akan malam sebentar lagi.
“Argh!! Jika saja aku tidak berhenti di tempat seperti ini, Aku pasti tidak akan sial seperti ini. Sekarang aku harus bagaimana?? Arghhh!!!” Henry kembali menendang-nendang udara kosong di sekitarnya.
“Bahkan ponsel dan dompetku tidak bersamaku sekarang, Lalu bagaimana aku pulang?! Aku juga bahkan tak mengenal tempat ini. Argh, Sial!!”
Setelah hampir dua jam berjalan melewati jalanan kosong itu, Akhirnya Henry tiba di sebuah komplek perumahan yang terbilang cukup ramai. Rasa lelah, lapar dan haus menjadi satu. Membuat lelaki ini tak mampu melangkah lebih jauh lagi.
“Hah… Sebenarnya kota apa ini? Aku benar-benar kelelahan…” Henry menjatuhkan dirinya di sebuah bangku panjang yang ada di depan mini market.
Ia melirik sekitarnya, Beberapa anak lewat sambil menikmati ice cream serta minuman dingin yang dapat di pastikan sangat menyegarkan. Henry sempat menelan ludahnya untuk menahan rasa hausnya yang semakin menjadi akibat melihat pemandangan itu.
“Haish… Kenapa aku jadi seperti gelandangan seperti ini?!” Henry menggelengkan kepalanya dengan tempo cepat. “Tidak… Semua ini pasti akan segera berakhir…” Batinnya.
Namun seakan tempat di sekitarnya tak mendukung pikiran Henry, Aroma ramen yang terasa nikmat itu menelisik masuk melalui indera penciuman Henry, Membuat lelaki itu langsung menoleh kepada dua orang lelaki yang hendak menyantap ramen tersebut.
Lagi-lagi dengan susah payah, Henry mencoba menahan dirinya agar tidak tergoda dan terlihat memalukan di hadapan mereka, Namun hasilnya tatapannya itu justru membuat mereka yang hendak menyantap ramen tersebut menjadi risih.
“Ya!! Apa yang kau lihat, Huh? Jika kau ingin ramen ini, Maka belilah dengan uangmu sendiri! Jangan menatap kami seperti itu, Benar-benar mengganggu!!” Sentak lelaki itu dengan keras.
Henry tersadar dari apa yang baru saja di lakukannya, Ia langsung saja beranjak dari duduknya. “Kau pikir aku tidak mampu untuk membeli ramen itu, Huh?” Balas Henry sengit.
“Kalau kau memang mampu, Jangan memandangi kami seperti itu! Kau lebih baik membeli ramen di dalam sana!” Lelaki itu menggedikkan kepalanya dan menunjuk mini market di hadapannya.
“Aku memang mampu! Bahkan membeli mini market ini pun aku mampu! Tapi sayangnya aku tidak tertarik dengan makanan murahan seperti itu!” Elak Henry kemudian bergegas pergi dari tempat tersebut.
Masih terdengar samar-samar suara lelaki itu, Sepertinya ia sedang mengejek Henry saat ini. Tapi sayangnya Henry tidak peduli dengan hal itu dan memilih untuk tetap pergi.
“Sial! Dia pikir aku mau memakan makanan kemasan murahan seperti itu?!” Gerutu Henry
Namun di saat itu juga suara perutnya langsung berbunyi dan membuat langkah Henry langsung melambat sampai akhirnya ia menghentikan langkahnya.
“Aaaahh… Aku lapar…” Ia memegangi perutnya yang terus berbunyi.
Henry memandang langit yang gelap, Dan untuk kesekian kalinya ia menghela nafas panjang. “Kenapa aku harus tersesat dan tak memiliki ponsel ataupun uang sepeserpun??” Lirihnya.
Dengan sedikit memaksakan dirinya, Henry kembali melanjutkan langkahnya meskipun pelan. Tapi seakan membenci dirinya, Cuaca tidak mendukung dirinya dan justru mulai menurunkan rintikan hujan yang perlahan-lahan menjadi deras.
“Arghh… Sial, Sial, Sial!!” Henry berlari dengan cepat dan memilih berteduh di sebuah bangunan bertingkat yang nampak tertutup itu.
“Haish… Bahkan cuaca tidak mendukung diriku dan membuat hariku semakin sial. Ahhh… Kenapa semua ini harus terjadi padaku?” Keluh Henry sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah basah itu.
Lagi, Rasa lelah dan kantuk mulai menghigapi dirinya. Terlebih udaranya kini terasa semakin dingin, Membuat Henry seakan ingin memejamkan matanya untuk beberapa saat.
Tapi sadar jika ia tertidur ia akan mati karena cuaca dingin ini, Henry memaksakan dirinya untuk kembali membuka kedua matanya dan menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak… Tidak… Kau tidak boleh mati hanya karena kedinginan di tempat asing ini, Henry … Tidak!!” Ujarnya pada dirinya sendiri.
Tapi hal itu tak bertahan lama, Karena akhirnya Henry merasa pertahanannya bobol. Kedua matanya tertutup dan sambil duduk di atas lantai sembari mendekap tubuhnya sendiri, Akhirnya Henry pun tertidur di tempat itu.
Di sisi Lain…
“Baiklah, Untuk hari ini… Sepertinya kita harus mengakhirinya dengan lagu hits terbaru dari Boa dengan judul Only One… Dan sampai jumpa lagi, Chinguya…”
Seorang gadis berparas manis itu segera memutar lagu yang tadi di sebutkannya, Lalu ia pun melepaskan earphone yang sejak tadi terpasang, Kemudian menjauhkan michrophone dari jangkauannya.
“Aahhh… Hari ini cukup melelahkan juga, Tapi menyenangkan…” Gumam gadis itu seraya merentangkan kedua tangannya yang terasa pegal karena sudah selama dua jam kebelakang ia terus duduk di kursi itu untuk menjadi seorang penyiar radio.
“Baiklah, Hari ini cukup sampai di sini. Aku ingin cepat pulang dan memakan sesuatu yang hangat… Aku lapar…” Pikirnya.
Gadis bernama lengkap Diarra Tan ini lantas segera beranjak dari posisinya, Kemudian ia pun mulai mengenakan sweater merah kesayangannya dan setelah lagu yang di putarnya selesai. Ia langsung keluar dari ruangan kedap suara itu.
“Hey, Diarra… Kau akan pulang sekarang?” Tanya salah satu rekannya yang bekerja sebagai penyiar radio juga.
“Ehm, Aku ingin segera bermanja ria di rumahku… Apalagi sekarang cuacanya dingin sekali…” Sahut Diarra seraya mengenakan topinya.
“Ah, Baiklah. Berhati-hatilah…” Ujarnya seraya tersenyum tipis pada Diarra.
“Tentu!” Gadis campuran yang berasal dari China-Jerman itu membalas senyuman rekannya itu, Kemudian ia pun berlalu menuju pintu depan studio.
Cklek!
Angin yang berhembus cukup kencang itu membuat Diarra bergidik kedinginan dan reflex mendekap tubuhnya dengan kedua tangannya. “Aaaahhh… Dingin sekali…”
Baru saja Diarra keluar selangkah dari studio tersebut, Tiba-tiba saja kedua matanya membulat begitu mendapati seorang lelaki dengan wajahnya yang memucat itu tengah tergeletak di hadapan studionya.
“Omo!!” Diarra segera mendekati lelaki itu dan menarik kepalanya perlahan. “Hey, Sadarlah! Apa yang terjadi? Hey!!” Diarra menepuk-nepuk wajah lelaki tersebut yang tak lain adalah Henry. Namun hasilnya nihil! Henry Kris tak bergeming sedikitpun.
“Hey! Irreona!!” Teriaknya sambil mengguncangkan tubuh Henry namun tetap tak ada reaksi.
“Aish… Bagaimana ini?” Diarra nampak panik saat ini. “Hey…” Ia lagi-lagi mencoba untuk membangunkan Henry , Tapi Henry sepertinya sudah kehilangan kesadaran dirinya. “Tolooong!!!” Diarra yang merasa tidak ada pilihan lain akhirnya berteriak sekuat tenaga hingga akhirnya orang-orang yang berada di dalam studio langsung keluar dan membantu Diarra untuk membawa Henry ke dalam mobilnya.
Henry merasakan sekujur tubuhnya yang kaku mulai menghangat dan semakin hangat. Samar-samar ia dapat mendengar suara bising dari arah lain, Dan aroma makanan yang membuat kesadarannya langsung terkumpul penuh.
Sret!
Henry membuka kedua matanya dengan cepat, Lalu memutar kepalanya, Memperhatikan setiap sudut ruangan ini.
“Di mana aku sekarang?”
Dengan perlahan dan menahan rasa sakit pada tubuhnya, Akhirnya Henry beranjak dari ranjang tersebut dan berjalan menuju sebuah ruangan yang membuat aroma makanan yang terasa begitu lezat itu.
Henry mengerutkan keningnya saat mendapati seorang gadis tengah memunggunginya karena tengah asyik memasak. Dan bahkan gadis ini sepertinya tak sadar akan kehadirannya.
“Kau… siapa?” Suara Henry terdengar berat.
Mendengar suara asing, Gadis yang tak lain adalah Diarra itu langsung menoleh pada Henry. “Oh, Kau sudah sadar rupanya? Bagaimana kondisimu sekarang? Apakah sudah lebih baik?”
“Ah?” Henry  terdiam sesaat, Mencoba mencerna ucapan Diarra. “Ah, Ne… Aku sudah lebih baik sekarang…” Henry mengangguk enggan. “Tapi… Bagaimana aku ada di tempat ini?” Tanyanya penasaran.
“Eoh… Soal itu… Ini rumahku, Aku membawamu ke sini saat tadi malam menemukanmu tak sadarkan diri di depan studioku. Kau terserang Hipotermia…” Jelas Diarra kemudian.
“Benarkah?” Henry menatap Diarra tak percaya dan gadis itu mengangguk singkat. “Aku pasti merepotkanmu…”
Diarra mengibaskan tangannya acuh, “Itu bukan suatu masalah…” Balasnya santai. “Oh yah… Apa kau lapar? Sepertinya sejak kemarin kau belum makan… Dokter mengatakannya padaku tadi malam…”
“Mungkin lebih tepatnya diberitahu suara perutku ini…” Gumam Henry dalam batinnya.
“Kemarilah… Aku sudah menyiapkan beberapa menu makanan untukmu…” Suruh Diarra sambil menunjuk meja makan yang ada di dekat mereka.
Henry tetap terdiam di tempatnya sambil menatapi makanan yang telah di siapkan Diarra. Dia sepertinya masih sedikit sungkan.
“Hey, Ayolah… Aku tidak akan meracunimu…” Canda Diarra yang telah duduk lebih dulu.
“Eoh?” Henry  tersadar dari lamunannya. “Ehm, Yah… Baiklah…” Ujarnya seraya duduk tepat di hadapan Diarra dan hanya dalam hitungan detik Henry mulai melahap makanan tersebut.
Diarra tersenyum geli saat melihat Henry begitu lahap makan, Sepertinya lelaki ini benar-benar merasa kelaparan.
“Ngomong-ngomong… Kau tidak terlihat seperti orang sini. Siapa namamu? Dan kenapa kau bisa ada di sini?” Tanya Diarra penasaran.
“Henry … Namaku Henry!” Jawab Henry dengan mulut yang penuh. Dengan susah payah ia menelan makanan tersebut kemudian melanjutkan ucapannya, “Sebenarnya aku tersesat di kota ini… Dan tiba-tiba saja di tengah jalan aku di rampok. Semua benda berhargaku termasuk mobilku lenyap dalam seketika…”
“Ahhh… Begitukah? Aku turut berduka cita…”
Henry tak mempedulikan ucapan Diarra, Ia kembali melahap makanan tersebut. Diarra pun ikut melahap makanan tersebut, Namun sepertinya gadis ini lebih tertarik untuk bertanya soal Henry lagi daripada pada makanannya. Karena semenit setelah berlalu Diarra kembali melontarkan pertanyaan pada Henry.
“Tapi… Kau tidak terlihat seperti orang Korea. Dan kau juga tidak terlihat seperti orang asing pada umumnya. Ehm… Apakah kau memiliki nama lain selain Henry?”
Henry menghentikan makannya dan langsung menatap Diarra dengan tatapan tajamnya. “Tidak ada!” Jawabnya singkat.
“Benarkah?”
“Yah…”
“Oh ayolah… Mengaku saja padaku, Kau pasti memiliki nama lain selain Henry kan?”
“Memangnya kenapa kau harus tahu?” Henry malah justru bertanya balik pada Diarra.
“Errr…” Diarra terdiam sesaat, “Hanya sekedar ingin tahu… Dan mungkin saja aku kau ini orang jahat, Jadi aku bisa melaporkanmu pada polisi jika kau berbuat sesuatu. Dan kau harus ingat, Ada banyak nama Henry di dunia ini!”
“Kau pikir aku orang jahat?” Ujar Henry  merasa tersinggung.
“Sudah kubilang kan mungkin…” Sahut Diarra tetap kalem.
“Dan aku memang bukan orang jahat, Nona! Memangnya tampangku terlihat seperti seorang teroris…”
“Sedikit…” Timpal Diarra benar-benar cuek.
Henry menggeram kesal karena tingkah gadis ini yang benar-benar tetap santai meski tahu jika dirinya bisa kapan saja marah kepadanya.
“Baiklah, Nama Panjang ku Henry Lau!” Pasrah Henry pada akhirnya.
“A-apa?”
“Henry Lau… Kau puas?” Henry memiringkan kepalanya sambil menatap tajam pada Diarra.
“Henry Lau?” Ulang Diarra. “Wuahahahahahahahaha… Namamu lucu sekali!!” Tawa Diarra langsung meledak dalam seketika.
“Haish…” Renggut Henry kesal. “Memangnya namamu siapa, Nona? Sejak tadi pun kau belum memberitahu namamu…”
“Aku?” Diarra menunjuk dirinya sendiri. “Namaku Diarra Tan…” Jawabnya kemudian dengan mantap.
“Diarra Tan? Ha ha ha ha ha… Tidak kusangka namamu memiliki unsur China yang sama denganku. Cih… Bisa saja tadi mengejekku!” Kini giliran Henry yang tertawa puas dan Diarra yang berdecak sebal.
“Begitu-begitu, Aku yang sudah menyelamatkan hidupmu, Tuan Lau! Jadi, Bersikaplah sopan sedikit saja padaku…” Ujar Diarra masih terlihat kesal.
“Ahh, Baiklah…” Henry langsung menghentikan tawanya dan berlagak seperti sedang mengunci bibirnya lalu membuang kuncinya begitu saja. Tapi nampak jelas sekali jika ia masih menahan tawanya.
Setelah mereka selesai menyantap makanan tersebut, Akhirnya Diarra pun merapihkan meja tersebut dan mulai mencuci piring dan gelas kotor itu.
“Jadi, Apa yang akan kau lakukan sekarang?” Tanya Diarra setelah selesai mencuci piring dan menghampiri Kris yang berada di ruang tengah sekarang.
“Ntahlah…” Henry mengangkat bahunya singkat. “Ponselku hilang, Aku tidak bisa mengingat semua nomor yang ada di sana, Dan lagi… Aku juga tidak punya uang untuk ke Seoul…”
“Lalu?”
Henry terdiam sesaat, Namun setelah itu ia langsung melirik Diarra yang duduk di hadapannya. “Biarkan aku tinggal di tempat ini, Hm?” Ujar Henry kemudian.
“Eh?!”
“Ayolah… Kau tidak mungkin membiarkanku menggelandang di luar sana kan?” Bujuk Henry.
“Jangan bercanda!! Kau bahkan tidak memiliki hubungan apapun denganku, Dan aku bahkan baru mengenalmu sejak beberapa jam yang lalu. Dan sekarang kau meminta untuk tinggal di tempatku?!” Pekik Diarra dengan kedua mata yang membulat.
“Diarra-ssi… Aku mohon… Aku benar-benar tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi. Orang yang ku kenal di Gyeongju hanya kau saja…” Ujar Henry dengan wajahnya yang terlihat memelas itu.
Diarra mencoba untuk memikirkan hal itu, Di lihatnya Henry yang masih tetap saja memasang tampang menyedihkan itu, Dan sejujurnya hatinya sedikit terenyuh akan hal itu. “Hah…” Ia menghela nafas panjang, “Baiklah… Tapi dengan satu syarat!!”
“Huh? Syarat? Apa?”
“Kau harus membersihkan rumahku setiap saat, Dan jangan membuat tetangga tahu jika kau tinggal di tempat ini. Arraseo?”
“M-mwo?” Henry tertegun mendengar ucapan Diarra. “Untuk soal tetangga yang tidak tahu akan keberadaanku itu tidak jadi masalah, Tapi jika soal membersihkan rumahmu…”
“Mau atau tidak?”
“Tapi…”
“Jika kau tidak mau maka kau harus keluar dari rumahku sekarang juga!”
“MWO?!” Pekik Henry keras. “Haish… Arraseo… Arraseo… Aku akan mengikuti keinganmu. Kau puas sekarang?!” Pasrah Henry pada akhirnya.
Diarra tersenyum lebar. “Tentu!!” Jawabnya kemudian.
Henry terus menggerutu kesal sambil mengepel seluruh ruangan rumah ini. Ia benar-benar tidak menyangka jika rumah Diarra ini terbilang cukup besar juga.
“Hah! Apa-apaan ini, Tersesat di kota sebesar ini dan bahkan aku menjadi seorang pembantu di rumah seorang gadis! Ck, Memalukan!” Gerutunya.
Diarra yang baru saja keluar dari dalam kamarnya, Jelas saja mendengar gerutuan Henry. Ia pun lantas mendekati Henry dan menepuk pundak Henry.
“Omo!” Kaget Henry saat melihat Diarra yang justru tersenyum tipis padanya.
“Tak ada gunanya mengeluh seperti itu… Kerjakan saja pekerjaanmu dengan senyuman, Maka kau tidak akan merasa lelah lagi…” Ujar Diarra santai dan kemudian bergegas pergi ke arah dapur.
“Aish, Kau mudah mengatakan hal itu!” Sindir Henry.
Diarra langsung menoleh pada Henry, “Kau pikir ada pekerjaan yang tidak melelahkan. Jangan terus mengeluh, Sudah kerjakan saja!” Ujarnya sambil menggedikan kepalanya.
“Aish… Jinja!” Henry menghentakkan tongkat kain pel itu dengan kasar.
Diarra keluar dari arah dapur dan segera saja mengenakan jaketnya kemudian mengenakan sepatunya. “Aku pergi dulu yah…” Pamit Diarra.
“Eh, Tunggu dulu!!” Tahan Henry yang berlari kecil menghampiri Diarra.
“Ada apa?”
“Kau mau kemana? Hari sudah semakin gelap… Kenapa kau baru pergi sekarang?” Tanya Henry penasaran. Ntah apa yang ada di pikirannya saat ini, Tapi ia begitu ingin menanyakan hal.
“Ah… Itu, Aku bekerja sebagai seorang penyiar radio. Dan sebentar lagi adalah jam tayangku. Jadi, Aku harus pergi sekarang…” Jelas Diarra kemudian.
“Penyiar radio? Kau?” Tanya Henry tak percaya.
“Ehm…” Diarra mengangguk singkat.
“Woah… Ternyata pekerjaanmu adalah seorang penyiar radio…” Takjub Henry dan kembali di balas anggukan Diarra.
“Karena itu kau harus mendengarkan siaranku, Oke?” Diarra mengedipkan sebelah matanya. “Ah iyah… Malam ini aku akan membantumu agar dapat pulang kembali ke Seoul. Jadi kau tak perlu khawatir lagi…”
“Benarkah?”
“Yah, Aku akan menyiarkan jika seorang Henry Lau ada di Gyeongju. Jadi untuk orang yang sedang mencarimu pasti akan langsung datang kemari kan?” Ujar Diarra kemudian.
“Ya!!”
“Arraseo… Henry kan? Bukan Henry Lau…” Tawa Diarra menyela amukan Henry. “Baiklah, Aku akan pergi sekarang. Sampai berjumpa nanti, Henry …” Pamit Diarra dan dengan secara reflex gadis itu mengacak-acak rambut Henry lembut, Maklum saja, Tinggi mereka tak terlalu berbeda jauh. “Bye..” Ujarnya lagi seraya keluar dari rumah tersebut.
Deg!!
Henry merasakan jantungnya kini berdebar sangat kencang, Tubuhnya pun memanas dan terasa begitu kaku. Ingatan akan Diarra yang mengacak-acak rambutnya secara lembut pun kembali berputar dalam otaknya.
“Perasaan apa ini? Aku bahkan… Belum pernah merasakan jantungku berdebar dengan sangat kencang seperti ini…” Batin Henry seraya meremas dadanya.
Henry merebahkan tubuhnya di atas sofa setelah menyelesaikan pekerjaan rumah. “Akhirnya… Aku bisa menyelesaikannya juga… Hah…”
Kedua mata lelaki ini hendak tertutup saat tiba-tiba saja ia kembali teringat akan ucapan Diarra kepadanya sore tadi. Ia langsung membuka kedua matanya dan segera beranjak dari posisi tidurnya.
“Radio!” Ujarnya bersemangat.
Dengan segera Henry pun langsung menyalakan radio dan memindahkan saluran radionya persis dengan saluran radio yang Diarra bawakan. Ia ingat saat tadi sedang beres-beres saluran radio itu terpasang jelas di depan kulkas, Mungkin Diarra yang meletakkannya.
“Annyeong haseyo yeorobun… Kembali lagi bersama Diarra di sini…”
Henry tersenyum kecil saat mendengar suara Diarra dari ujung sana, “Suaranya… Benar-benar lembut sekali… Sama seperti orangnya yang terlihat manis…” Gumam Henry.
Sadar dengan apa yang di katakannya, Henry langsung menegakkan tubuhnya dan menggeleng cepat. “Tidak… Tidak… Apa yang baru saja kau pikirkan, Henry?”
Namun saat suara Diarra kembali terdengar, Henry seakan hanyut dalam suara Diarra yang terdengar seakan begitu lembut dan menenangkan baginya.
“Tapi suaranya benar-benar lembut…” Ujarnya lagi.
Cklek!
“Aku pulang…” Ujar Diarra yang baru saja tiba di rumah, Ia melepaskan sepatunya dan segera menyalakan lampu ruang tengah.
Diarra hendak mengambil segelas air putih namun terhenti saat melihat Henry ternyata tengah tertidur pulas di atas sofa dengan radio yang masih menyala.
“Haish… Kenapa dia membiarkan radionya tetap menyala?! Menghambur-hamburkan listrik saja! Biaya listrik sekarang kan mahal sekali…” Celoteh Diarra sambil mendekati radio tersebut kemudian segera mematikannya.
Diarra melirik Henry yang masih tetap tertidur pulas. Seakan terhipnotis dengan wajah tampan Henry, Diarra perlahan berjongkok di hadapan Henry dan menatap wajah Henry lekat.
“Aku baru sadar jika dia memiliki wajah setampan ini… Dan lagi, Dia benar-benar memiliki tubuh maupun paras yang sempurna…” Batin Diarra.
Ntah apa yang ada dalam pikiran Diarra, Namun tangan gadis itu perlahan mulai mendekati wajah Henry, Seakan hendak menyentuh helaian anak rambut tipis yang menghalangi wajah Henry  yang tampan itu.
Hanya tinggal sedikit lagi saja, Diarra dapat menyentuhnya, Tapi hal itu langsung terhenti dalam seketika saat kedua mata Henry membuat secara tiba-tiba. Di saat itu juga Diarra segera menarik tangannya cepat.
“Oh! Kau sudah datang?” Henry mengusap wajahnya cepat, Dan segera beranjak dari posisi tidurnya.
“Y-yah…” Jawab Diarra gugup sembari berdiri.
“Kapan kau pulang? Aku tidak mendengarmu mengetuk pintu…” Tanya Henry penasaran.
“Ah… Itu… Baru saja, Tidak lama setelah kau bangun…” Jawab Diarra gelagapan, Dia benar-benar jadi salah tingkah sekarang. Belum lagi, Ia takut Henry menyadari apa yang akan di lakukan olehnya tadi.
“Ah, Begitu…” Henry mengangguk singkat, Seakan tak ada yang ia sadari.
“Ka-kalau begitu… Aku ke kamar dulu…” Ujar Diarra kemudian bergegas ke kamarnya.
“Baiklah…” Henry kembali mengangguk dan menatap Diarra yang telah masuk ke dalam kamar. “Ada apa dengannya? Dia terlihat gugup sekali…” Bingung Henry benar-benar tak menyadari dengan apa yang di lakukan Diarra tadi.
Di sisi Lain…
Diarra menyandarkan tubuhnya di depan pintu sambil mencoba mengatur jantungnya yang terus berdetak cepat sejak tadi.
“Bodoh! Bodoh! Bodoh!! Apa yang baru saja akan aku lakukan?! Argh… Memalukan!!” Diarra menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menghentak-hentakkan kakinya cepat.
Ia lantas menatap kesal tangan kanannya. “Kau!!” Ia menunjuk tangan kanan itu. “Bodoh! Kenapa kau bergerak tanpa seizinku, Huh?! Dasar bodoh!!” Gerutu Diarra terlihat seperti orang gila karena berbicara dengan tangannya sendiri.
Cahaya mentari pagi menerpa wajah Diarra yang masih tertidur pulas di ranjangnya. Maklum saja, Ia baru bisa tidur setelah jam 3. Insomnia menyerang dirinya, Atau lebih tepatnya dia terlalu memikirkan kejadian tadi malam itu.
“Pagi…” Sapa Henry yang sudah berada di dapur saat Diarra keluar dari kamarnya dengan kaca mata besar yang melekat di wajahnya, Menutupi lingkaran hitam yang ada pada matanya.
“Pagi…” Balas Diarra sembari menyambar sebotol orange juice dari dalam lemari es.
“Aku membuatkan roti panggang untukmu. Kau mau mencicipinya?” Henry tiba-tiba saja berdiri di hadapan Diarra yang langsung saja mengejutkan gadis itu.
Deg!!
Diarra akui jika ia terpesona akan ketampanan Henry pagi ini, Terlebih ia lagi-lagi mengingat kejadian tadi malam.
“A-ah… B-ba-baiklah…” Gugup Diarra sambil duduk di hadapan meja makan, Mencoba untuk tidak bertatap muka secara langsung dengan Henry.
“Hari ini kau bekerja juga?” Tanya Henry memecah keheningan yang telah terjadi sejak lima menit yang lalu.
“Yah…” Sahut Diarra singkat.
“Oh…” Henry mengangguk singkat. “Ah yah… Mulai malam ini aku akan menjemputmu…”
“MWO?! Uhuk… Uhuk…” Diarra langsung tersedak begitu mendengar ucapan Henry tadi.
“Ada apa denganmu? Cepatlah minum…” Henry menyodorkan segelas air putih pada Diarra. Dan dengan segera Diarra langsung meneguk air putih itu hingga tak tersisa sedikitpun, Ia bahkan masih terus batuk meski telah minum segelas air putih.
“Untuk apa kau menjemputku malam ini?!” Pekik Diarra dengan suaranya yang terdengar cukup nyaring itu.
“Sekedar berjaga-jaga…”
“Maksudmu?”
“Yah… Akhir-akhir ini kan banyak kejadian perampokan, Dan kau seorang wanita. Jika tiba-tiba di tengah jalan kau di rampok. Dan tidak ada orang di sekitarmu, Kau pasti akan celaka..”
“Tidak perlu… Aku bisa sedikit bela diri…”
“Sedikit tidak menjamin kau akan selamat, Diarra-ssi…” Tekan Henry. “Dan lagipula, Semua ini aku lakukan sebagai balas jasaku karena kau sudah menolongku dan bahkan membiarkanku tinggal di rumahmu ini… Ayolah…” Bujuk Henry.
“Tidak…” Diarra menggeleng cepat, “Lagipula, Kau lupa jika kau di sini karena kau juga di rampok. Menjaga diri sendiri saja tidak bisa, Bagaimana menjaga diriku?” Tuntut Diarra.
Henry mendecak kesal sambil memiringkan kepalanya, “Itu karena mereka membawa senjata tajam serta pistol… Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Terlebih itu jalanan sepi…” Jelas Henry.
“Lalu jika ada yang ingin merampokku sama-sama membawa benda tajam dan pistol? Kau berarti tak bisa menjagaku, Henry …” Sahut Diarra bersikeras.
“Oh ayolah, Diarra Tan! Jangan keras kepala, Lagipula kau tidak bisa meremehkan kekuatan lelaki… Arraseo?”
“Pokoknya aku tidak akan mengizinkanmu menjemputku!” Tegas Diarra seraya beranjak dari duduknya dan hendak pergi ke dalam kamarnya kembali.
Merasa kesal akan hal itu, Henry lantas ikut beranjak dari duduknya dan tiba-tiba saja menarik tangan Diarra lalu merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya yang cukup erat itu.
“Kyaaaaa!! Ya! Apa yang kau lakukan?!” Jerit Diarra, Terkejut dengan perlakuan Henry ini.
“Sebagai contoh, Jika ada seorang lelaki hidung belang seperti ini, Maka apa yang akan kau lakukan, Diarra?” Henry menatap lekat Diarra sambil menyeringai kecil.
“Mwo?” Diarra membulatkan kedua matanya.
“Lakukan sesuatu… Kau pasti bisa lepas dariku, Jika memang kau jauh lebih hebat dariku…”
“M-mwoya?” Tak di pungkiri, Diarra merasa sedikit takut saat melihat Henry begitu terlihat berbeda dari biasanya. “YA! Lepaskan aku!” Diarra mencoba memberontak, Namun Henry tak bergeming sedikitpun.
“Ya!! Henry Lau… Kya!!”
Diarra kembali menjerit, Saat tiba-tiba saja Henry mendorong tubuhnya ke atas lantai dan ia pun menghimpit tubuhnya sambil memegang kedua tangan Diarra erat.
“Kau tidak melakukan apapun, Diarra… Kau hanya membuat posisimu semakin tersudutkan saja. Kau tahu? Ada banyak hal yang bisa aku lakukan padamu sekarang…”
“Apa maksudmu?!” Diarra semakin gelagapan menanggapi tingkah laku Henry ini.
“Seperti… Menciummu!” Henry mendekati bibir Diarra, Dan tentu saja Diarra langsung menoleh ke arah lain dengan wajahnya yang telah memerah.
“Kau terlalu berlebihan!!” Pekik Diarra terlihat sangat gugup.
Menyadari akan rona merah yang ada pada wajah Diarra, Henry lantas tersenyum kecil. Ia pun semakin mendekati wajah Diarra dan berbisik tepat di telinga gadis itu.
“Karena itu… Biarkan aku menjemputmu malam ini, Arraseo?” Bisiknya dan seketika itu juga Henry melepaskan jeratannya lalu beranjak dari atas tubuh Diarra. “Jam 10 malam nanti, Aku akan di depan studiomu. Kau harus menungguku!” Ujar Henry lagi, Kemudian ia pun pergi ke arah kamar mandi.
Sedangkan Diarra yang masih terbaring di atas lantai hanya dapat terdiam, Mencoba berfikir jernih tentang apa yang baru saja terjadi tadi. Serta mencerna setiap perkataan Henry tadi.
“Arrrrghhh!!” Diarra menutupi wajahnya. “Kenapa kau tidak melawan sedikitpun, Diarra?!” Umpatnya pada diri sendiri, Ia mengguling-gulingkan tubuhnya sendiri di atas lantai.
Dan Henry yang sebenarnya mengintip dari dalam kamar mandi hanya dapat menahan tawanya ketika melihat sikap Diarra yang menurutnya menggemaskan.
Diarra baru saja selesai siaran, Ia benar-benar merasa sangat lelah hari ini. Pikirannya terus saja memikirkan ucapan Henry pagi tadi. “Apa dia benar-benar akan menjemputku?” Batin Diarra.
Ia mengenakan jaket berbahan rajutannya dan langsung mengecek jam di ponselnya. “Jam 10. Dia datang kah?” Ia kembali bergumam dalam hatinya.
Mencoba untuk melupakan hal itu, Diarra lantas segera beranjak dari tempatnya dan setelah berpamitan pada rekan kerjanya yang lain, Diarra pun bergegas menuju pintu depan studio.
Deg!!
Diarra begitu terkejut saat mendapati Henry tengah berdiri di sisi mobilnya sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya dan tersenyum tipis padanya.
“Kau?!” Diarra menunjuk Henry dengan kedua mata yang membulat.
Senyum pada wajah Kris pun semakin terkembang, “Aku benar-benar menepati janjiku kan? Aku datang jam 10. Seperti yang kukatakan tadi pagi…” Ujar Kris seraya berjalan mendekati Diarra.
Sedangkan Diarra yang masih tak mempercayai hal ini hanya dapat melongo menatap Henry. “Tidak… Aku pasti berhalusinasi!” Diarra menggelengkan kepalanya cepat.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Henry bingung.
“Eoh?” Diarra kembali melihat Henry, Dan benar saja ini bukan halusinasinya semata! Henry benar-benar berdiri di hadapannya saat ini.
Dan ntah apa yang terjadi pada dirinya, Tapi Henry merasakan jantungnya kembali berdegup dengan sangat kencang. Ia benar-benar merasa senang, Karena Henry telah menepati apa yang di ucapkannya tadi pagi.
Tapi haruskah dia senang? Dia bahkan sempat menolak mentah-mentah keinginan Henry pagi tadi untuk tidak menjemputnya. Lalu sekarang? Kenapa dia harus senang?
“Kajja, Kita pulang…” Ajak Henry kemudian seraya menarik tangan Diarra dengan lembut. Ia sepertinya tak sadar akan sikap Diarra yang berubah.
“Aku… Tidak mungkin tertarik… Pada seseorang yang baru saja dua hari ini kukenal kan?” Batin Diarra. “Sudah pasti, Aku tidak mungkin tertarik padanya!!” Gumam Diarra dengan mantap dalam hatinya.
Dua minggu telah berlalu, Henry tetap tinggal di rumah Diarra. Keduanya jadi semakin dekat dan tidak sungkan satu sama lain lagi. Yah, Walaupun pertengkaran kecil selalu terjadi di antara keduanya, Namun di saat itu juga mereka berbaikan. Seperti saat ini misalnya.
Diarra tengah menyantap ice cream sambil menikmati alunan lagu yang terputar di radio. Henry yang melihat hal itu, Langsung saja menyambar cup ice cream Diarra dan melahapnya.
“YA!” Sentak Diarra kesal.
“Wae?” Tantang Henry sambil menatap Diarra. Dia tahu betul jika Diarra takkan sanggup jika harus bertatap muka dalam jangka waktu lama dengannya.
“Haish, Kembalikan ice creamku!!” Sinis Diarra sambil menatap arah lain.
“Tidak mau!”
“Kenapa? Itu ice creamku!!!”
“Kau bahkan tidak menatapku saat memintanya, Lalu untuk apa aku memberikan ice cream ini pada orang tidak sopan sepertimu?” Sindir Henry yang seakan ingin menggoda Diarra.
“Haish, Ya! Henry Lau!!” Jerit Diarra sambil menoleh padanya dan menatap tajam pada Henry.
Bukannya takut, Henry justru tersenyum sumringah. “Nah, Ini kan lebih baik…” Ujarnya dengan kalem dan kembali melahap ice cream itu.
Blush!
Kedua pipi Diarra memerah dalam seketika, Ia benar-benar tak dapat menahan dirinya sendiri jika sudah melihat senyum Henry akhir-akhir ini. Ia pasti saja selalu merasa debaran jantung yang kencang serta kedua pipi yang memerah, Seperti orang yang sedang jatuh cinta.
Ting Tong… Ting Tong…
Suara bel berbunyi, Menyadarkan Diarra dari lamunanya. Ia pun langsung menatap Henry  kesal. “Kau menyebalkan!”
Bugh!
“Ahk…” Henry langsung meringis kesakitan saat Diarra menendang kakinya dan berlalu pergi menuju pintu depan rumah. “Aish… Diarra… Neo…”
Yah, Beginilah yang selalu terjadi di antara mereka berdua. Namun, Ada satu hal yang tak mereka sadari sebelumnya. Sebuah benih-benih cinta yang tak di sadari itu perlahan mulai tumbuh di antara kedua orang yang telah tinggal seatap rumah ini.
Cklek!
Diarra membuka pintu rumahnya dan mendapati seorang lelaki berwajah imut dan berbadan sedikit kurus itu tengah tersenyum padanya. Diarra yang merasa tak mengenal lelaki ini, Hanya dapat mengerutkan keningnya bingung.
“Kau… siapa?” Tanya Diarra.
“Oh, Kenalkan… Namaku Lee Hyukjae… Aku adalah saudara Henry Lau , Lelaki yang tinggal di sini bersamamu…” Lelaki bernama Hyukjae itu membungkuk singkat pada Diarra.
“Siapa?” Tanya Henry yang muncul dan berdiri di samping Diarra.
“Henry!” Hyukjae tersenyum sumringah saat mendapati Henry tengah berdiri di hadapannya.
“Hyukjae!!” Kaget Henry saat mendapati Hyuk, Saudaranya tengah berada di tempat ini. Ia tak menyangka jika Hyuk akan datang.
“Aku datang menjemputmu, Henry. Senang bisa bertemu denganmu lagi setelah dua minggu kau menghilang dari Seoul…” Celoteh HyukJae seraya menerobos masuk dan memeluk Henry erat.
“Ah yah… Aku juga…” Henry membalas pelukan Hyuk dengan enggan.
Hyukjae lantas menarik tubuh Henry, “Kau tahu? Hyemi pasti akan senang jika tahu akan telah menemukanmu di sini! Eomma… Appa juga!” Ujar Hyukjae antusias.
Deg!!
“Benar.. Aku melupakan soal Hyemi…” Batin Henry saat mendengar ucapan Hyuk tadi. “Ah, Ne. Aku juga merindukan kalian…” Dengan kecut Henry membalas senyuman Hyuk.
Henry melirik Diarra yang sejak tadi terdiam tanpa mengatakan apapun. Dan di saat kedua bola mata hitam mereka saling bertemu, Keduanya hanya dapat mematung.
Namun seakan tak ingin Henry tahu jika saat Diarra tengah merasa sedih karena sadar jika Henry pasti akan pergi dari tempatnya sebentar lagi, Ia pun memaksakan seulas senyum di bibirnya.
“Selamat..” Desis gadis itu nyaris tak terdengar, Dan ia pun segera masuk ke dalam rumahnya.
1 Bulan Kemudian…
Henry terduduk di sebuah bangku panjang yang terletak di taman rumahnya. Ia menghela nafas panjang sambil menatap langit-langit.
“Hah… Satu bulan telah berlalu sejak hari itu. Tapi kenapa aku terus saja memikirkan Diarra? Padahal… Aku jelas tidak berhubungan lagi dengannya…” Gumam Henry.
Ingatan akan kejadian-kejadian yang terjadi di antaranya dan Diarra langsung terbesit dalam benaknya. Ia benar-benar merindukan sosok Diarra.
Diarra yang selalu tersenyum padanya, Diarra yang selalu memarahinya, Diarra yang selalu memaki-makinya jika dia tengah berbuat iseng padanya.
“Diarra Tan… Kurasa… Kau telah mencuri hatiku saat itu. Kau membuatku gila karena terus memikirkanmu, Diarra…” Henry menutup kedua matanya perlahan, Membayangkan wajah Diarra yang sangat di rindukannya.
“Oppa…” Suara seorang gadis menyadarkan Henry dari lamunannya.
Henry tersentak dan segera membuka kedua matanya lalu menoleh ke asal sumber suara. Dan di sana seorang gadis cantik dengan kulitnya yang terlihat seputih susu itu kini telah berdiri tepat di sampingnya. Dia Lee Hyemi, Calon tunangannya.
“Hyemi-ah!” Kaget Henry.
“Apa yang Oppa lakukan?” Tanya Hyemi kemudian.
“Eoh? A-aku.. Hanya sedang… Menikmati udara segar saja…” Bohong Henry telihat sedikit salah tingkah. “Pagi ini cuacanya benar-benar cerah…” Lanjutnya sambil tersenyum enggan.
Hyemi lantas menoleh ke arah langit dan tersenyum kecil, “Oppa… Ada satu hal yang ingin aku katakan padamu…”
“A-apa?” Henry masih terlihat gugup. “Dia tidak mungkin… Mengajakku mempercepat acara pertunangan kan? Aku tidak mungkin bertunangan dengannya… Sementara aku… Memiliki perasaan pada gadis lain…” Batin Henry.
Hyemi terdiam sesaat, Hal ini tentu saja semakin membuat Henry takut dan perasaan bersalah mulai menyelimuti dirinya.
“Oppa…” Suara Hyemi kembali terdengar dan membuat debaran jantung Henry terhenti dalam seketika. “Sebenarnya… Sejak perjodohan yang di buat orang tua kita saat itu. Aku… Hanya berpura-pura menyetujuinya Oppa…”
“Eh?” Henry mencoba mencerna setiap kata yang baru saja di lontarkan Hyemi padanya tadi.
“Oppa..” Hyemi menoleh pada Henry dan menggenggam erat kedua tangan Henry. “Mianhe, Aku sebenarnya… Sudah berpacaran dengan Hyukjaesejak dulu…” Ujar Hyemi melanjutkan.
Hening, Henry tetap terdiam. Begitupun dengan Hyemi yang hanya menatap lelaki itu dengan wajahnya yang terlihat begitu bersalah karena telah membohongi Henry.
“Hyemi-ah…” Suara Henry akhirnya terdengar.
“Ne?”
“Apakah… Hyukjae di sini bersamamu?” Tanya Henry kemudian.
“Ne?” Hyemi terdiam sesaat. Dan sedetik setelah itu pun ia mengangguk singkat. “Yah… Dia ada di sini juga, Oppa…”
“Aku di sini, Henry!” Jawab Hyukjae yang muncul dari balik semak-semak yang berbentuk seorang malaikat kecil itu.
Henry lantas beranjak dari posisinya dan berjalan mendekatinya, Hyukjae yang melihat hal itu tentu saja panik dan segera berlari lalu berdiri tepat di hadapan Hyukjae.
“Oppa, Jika kau ingin memarahi Hyukjae. Maka kau lebih baik memarahiku saja, Aku yang salah!” Jerit Hyemi panik.
Bukannya terlihat kesal atau apa, Henry justru malah langsung tertawa keras membuat Hyukjae dan Hyemi tentu saja bingung.
“Henry, Kau tidak apa-apa?” Tanya Hyuk.
Henry menggeleng sambil mencoba menahan tawanya, “Hey… Kenapa kalian baru mengatakan hal ini padaku sekarang, Hm? Aku hampir saja mati karena merasa bersalah. Aku pikir.. Hyemi benar-benar setuju dengan pertunangan ini!” Ujar Henry kemudian.
“Eh? Jadi… Kau tidak mencintai Hyemi selama ini?” Hyukjae menatap bingung pada Henry.
“Tentu saja tidak! Aku tidak mungkin mencintai seseorang yang bahkan sudah kusayangi sebagai adikku sendiri…” Sahut Henry Kris santai.
“Lalu… Apa ada seseorang yang Oppa sukai?” Tanya Hyemi kemudian.
Henry terdiam sesaat, Dan setelah itu ia mengangguk sambil tersenyum tipis. “Yah, Dan mungkin sekarang aku harus pergi menemuinya!” Ujar Henry yang kemudian langsung berlari begitu saja, Meninggalkan Hyuk dan Hyemi yang hanya dapat melongo bingung.
“Hey, Lee Hyukjae ! Jika kau berani menyakiti Hyemi, Maka aku akan menghajarmu dan langsung merebut Hyemi darimu. Kau mengerti?!” Teriak Henry sebelum masuk dalam mobilnya.
“Tidak masalah! Karena aku tidak akan pernah menyakitinya, Henry!” Balas Hyukjae sambil tersenyum lebar dan mengacungkan kedua jempolnya. “Semoga  kau sukses, Lau Henry!”
“Aish, Jangan panggil aku dengan nama itu!!” Teriak Henry yang telah masuk ke dalam mobil.
Kemudian, Mobil yang di naiki Henry pun melaju dengan kencang, Meninggalkan kawasan rumahnya dengan secepat mungkin. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan seorang gadis yang mampu membuatnya selalu tidak tidur selama berhari-hari dan terus memikirkannya.
Perjalanan yang cukup jauh itu dapat Henry tempuh hanya dalam beberapa jam saja, Wajar saja ia sekarang bahkan mengendarai mobilnya sudah seperti orang gila yang sedang mabuk saja. Untungnya, Polisi tidak menyadari hal itu dan tak membuat perjalanan Henry terhambat.
Sesampainya di Gyeongju setelah berjam-jam menempuh perjalanan yang cukup jauh ini. Henry segera turun dari dalam mobilnya dan berlari memasuki halaman rumah Diarra.
“Diarra!! Keluarlah, Ini aku!! Diarra!!”
Henry menggedor-gedor dan memencet tombol rumah Diarra berulang kali, Namun Diarra tak kunjung membukakan pintu rumah. Rumah ini bahkan terasa kosong, Sepertinya Diarra tidak berada di rumah hari ini.
“Haish…” Umpat Henry kesal, Ia benar-benar merasa putus asa. Pikiran negatif pun mengisi pikirannya saat ini. “Dia tidak mungkin telah mendapatkan seorang kekasih kan? Atau… Dia tidak mungkin pindah kan?”
Henry menjatuhkan dirinya di atas tanah sambil meremas rambutnya kesal. “Argh!! Kau bodoh, Henry!! Kenapa kau harus terlambat!!”
“Eoh, Apa yang kau lakukan di rumah ini, Anak muda?” Tanya seorang pria tua yang lewat di depan rumah Diarra.
Melihat pria tua itu, Henry lantas beranjak dari posisinya dan menghampiri lelaki itu. “Ahjusshi, Apa kau tahu gadis yang tinggal di sini?”
“Ahh… Diarra Tan maksudmu?”
“Ne…” Henry mengangguk cepat.
“Dia sekarang berada di Gereja yang tak jauh dari tempat ini. Ada pernikahan mewah di sana..” Jelas pria itu kemudian.
“Gereja?! Pernikahan?!” Henry membulatkan kedua matanya. “Tidak…” Ia menggeleng cepat. “Ini tidak boleh terjadi!! Aku harus mencegahnya!!” Ujarnya yang kemudian segera masuk ke dalam mobilnya setelah sebelumnya berpamitan pada pria tua tersebut.
Henry menancap gasnya dan kembali melajukan mobilnya dengan cepat, Wajahnya nampak terlihat begitu panik. Seakan takut jika ia akan melakukan kesalahan besar jika ia datang terlambat meski hanya satu detik saja.
“Kau tidak boleh menikahi siapapun, Diarra!! Kau tidak boleh menikah dengan siapapun, Sebelum kau mengetahui isi hatiku yang sebenarnya! Tidak boleh!!”
Diarra menatap altar pernikahan yang kini ada di hadapannya, Ia kini mengenakan gaun putih dengan rambutnya yang panjang bergelombang di biarkannya begitu saja, Menutupi sebagian pundaknya yang putih itu agar tidak terlalu terexpose.
“Hah… Kapan aku bisa berdiri di altar penikahan itu? Bahkan… Jae Hee mendahuluiku…” Pikir Diarra saat melihat seorang gadis yang tengah berjalan menuju altar pernikahan itu dengan di temani ayahnya.
Yah, Saat ini Diarra tengah menghadiri pernikahan sahabatnya yang bernama Goo Jae Hee bersama calon suaminya yang sudah sangat Diarra kenal, Park Jungsu.
Sebesit bayangan akan wajah Henry pun terlintas dalam benaknya ketika Diarra membayangkan jika dia tengah berjalan di altar pernikahan itu dengan seorang lelaki yang berdiri tak jauh dari dirinya, Dan lelaki itu adalah Henry.
“Tidak… Apa yang baru saja kupikirkan?” Diarra tersenyum kecut. “Aku tidak mungkin dapat bertemu dengannya lagi. Dia jelas-jelas telah pergi jauh…”
Brak!!
Pintu gereja yang menjulang tinggi itu terbuka keras saat pendeta hendak mengucapkan doa suci untuk kedua calon pengantin ini.
“TIDAK!! HENTIKAN PERNIKAHAN INI!!” Teriak seseorang dengan suaranya yang terdengar begitu lantang. “PENGANTIN WANITA ADALAH GADISKU! GADIS ITU TIDAK AKAN BISA MENIKAH DENGAN SIAPAPUN!!”
“Suara ini…” Merasa tak asing lagi dengan suara itu, Diarra lantas menoleh ke belakang dan benar saja. Ia langsung membuka mulutnya lebar dengan kedua mata yang membulat saat melihat ternyata orang yang berteriak itu adalah… “Henry?!”
“Apa maksudmu dengan pengantin wanita ini adalah milikmu, Dia adalah calon isteriku!” Sinis sang mempelai lelaki seraya menoleh pada Henry dan menatap tajam pada Henry.
Henry hendak berteriak membalas ucapan sinis mempelai lelaki bernama Park Chanyeol itu. Tapi terhenti saat ia melihat sang mempelai wanita menoleh padanya juga.
“Siapa kau? Aku tidak mengenalmu…” Tanya gadis bernama Goo Jae Hee itu bingung.
Seketika itu juga tubuh Henry langsung menegang. Ia telah salah! Gadis yang di sangkanya adalah Diarra ternyata bukanlah Diarra, Melainkan orang lain yang bahkan tak ia kenal!!
“Kau… Bukan Diarra?” Desis Henry tertahan, Nyaris tak terdengar.
Mendengar namanya di sebutkan, Diarra langsung saja berlari dengan memutar arah dan kini ia berdiri tepat di hadapan Henry.
“DIARRA?!” Pekik Henry tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini. Senyum sumringah nampak jelas di wajahnya.
“Apa yang kau lakukan, Bodoh?! Kau menghancurkan acara pernikahan sahabatku!!” Bisik Diarra sambil menoleh enggan pada para tamu yang hadir.
“Ahhh… Kalian lanjutkan saja acaranya. Kami akan segera keluar… Maaf, Telah membuat acara ini menjadi kacau…” Sesal Diarra yang lalu segera menarik Henry untuk keluar.
 “Apa yang baru saja kau lakukan, Bodoh?! Kau benar-benar membuat keonaran tadi!!” Jerit Diarra saat mereka telah berada di luar gereja.
Greb!
Bukannya menjawab, Henry justru menarik Diarra ke dalam rengkuhannya yang terbilang cukup erat itu. “Omo… Apa yang kau lakukan? Aku bisa mati karena kehabisan nafas…” Ucap Diarra saat Henry tetap memeluknya dengan erat.
“Henry …” Diarra mencoba melepaskan pelukannya, Namun percuma saja karena Henry  tetap tak bergeming sedikitpun. “Kau ini kenapa sih?”
“Aku merindukanmu, Diarra… Sejak aku pergi dari Gyeongju, Wajahmu selalu terbesit dalam benakku. Aku tidak bisa melupakanmu begitu saja, Diarra…” Bisik Henry.
Deg!
“Apa… katamu?”
Henry lantas melepaskan pelukan itu, Memegang erat kedua lengan atas Diarra sambil menatap lekat pada wajah Diarra.
“Aku mencintai seorang gadis… Dan gadis itu adalah kau… Diarra Tan…”
“A-apa?” Diarra tertegun mendengar ucapan Henry tadi. Sejujurnya, Tidak dapat di pungkiri ia begitu senang saat mendengar pernyataan cinta itu terlontar dari mulut Henry untuknya. Tapi ia masih tidak dapat mempercayai ini.
Sret!
Diarra melepaskan kedua tangan Henry dengan segera. “Jangan bercanda! Bukankah kau sudah memiliki tunangan?” Tanya Diarra kemudian, Mencoba untuk menampik hal tersebut.
“Sudah kukatakan itu hanyalah perjodohan kedua orang tuaku, Kau masih ingat hal itu kan, Diarra? Dan kau tahu? Ternyata… Hyemi tidak mencintaiku, Dia mencintai Hyukjae. Dan aku pun… Mencintaimu, Diarra…” Ungkap Henry.
“Tidak… Kau pasti sedang mempermainkanku!” Elak Diarra.
Henry lantas bersimpuh di hadapan Diarra dan memegang kedua tangan Diarra. “Lalu aku harus membuktikannya dengan cara apa, Diarra?”
“A-apa yang kau lakukan?! Berdirilah…” Diarra terlihat terkejut dengan sikap Henry ini.
“Tidak, Aku tidakan berdiri sebelum kau menjawabnya…”
“Menjawab apa?!”
“Menjawab pernyataan cintaku… Diarra, Aku benar-benar tulus mencintaimu. Dan aku ingin kau menjadi kekasihku… Apakah kau mau?”
Hening, Diarra memandang Henry yang masih tetap bersimpuh di hadapannya. Ia tak percaya jika Kris akan mengatakan hal ini suatu hari nanti padanya, Tepatnya hari ini.
“Diarra Tan… Kau belum menjawabnya…” Ujar Kris memecah keheningan yang ada.
“Aku tidak tahu, Kris …” Wajah Diarra berubah menjadi sendu dalam seketika. “Aku tidak tahu apakah aku mencintaimu atau tidak…”
“Kenapa?!” Kris mengerutkan bingungnya.
“Karena, Bagiku, Kau masih terasa orang asing yang masuk ke dalam kehidupanku begitu saja. Dan aku masih tidak dapat terima jika aku harus… Menyukai dirimu…”
Kris terdiam sesaat, Mencoba mencerna setiap kata yang di lontarkan Diarra. Namun di saat itu juga ia mengerti dengan maksud ucapan Diarra.
“Kalau begitu kau harus terbiasa untuk mencintaiku, Diarra Tan!” Senyum Kris.
Diarra pun membalas senyuman Kris dan akhirnya mengangguk singkat, “Nah, Sekarang kau bisa berdiri kan? Karena aku malu… Orang-orang melihat ke arah kita!” Desis Diarra pelan.
“Boleh saja, Tapi ada satu syarat…” Ujar Kris sambil menyeringai kecil.
“Eh? Syarat?!” Diarra menaikkan sebelah alisnya dan Henry mengangguk singkat.
“Mendekatlah padaku!” Suruh Henry dan membuat Diarra terpaksa membungkukkan tubuhnya.
“Apa?” Tanya Diarra bingung.
“Biarkan aku menciummu di tempat ini!”
“APA?!” Diarra langsung membulatkan kedua matanya, “KAU GILA!” Ia langsung mendorong tubuh Henry dan bergegas meninggalkan lelaki itu.
Namun, Henry hanya menyeringai kecil dan segera beranjak dari posisinya kemudian memeluk Diarra dari belakang sambil memutar tubuh gadis itu.
“Kyaaaa!!” Diarra pun menjerit histeris, Namun setelah itu keduanya langsung tertawa lepas secara bersamaan dan berpelukan secara erat.
“Aku mencintaimu…” Bisik Henry.
“Aku juga…”
The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar