Senin, 05 November 2012

FanFiction Super Junior Horror

-Conundrum-

“He is awake,”  Suara Jongjin samar-samar terdengar di pendengaran Yesung.
Yesung membuka matanya dengan perlahan, wangi cairan insulin masih memenuhi penciumanya. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba membiarkan ribuan cahaya memasuki matanya yang masih berbayang buram. Dia tidak bisa melihat cahaya matahari di dalam ruangan itu, jadi dia berasumsi bahwa kini sudah malam.

Kim Jongjin menghampirinya dengan senang, setelah tadi dia mendengar seorang suster berbicara bahwa Hyung-nya itu sudah tersadar dari obat biusnya. “Apa yang terjadi?” suara Yesung masih terdengar lemah, dia merasakan rongga-rongga di tenggorokanya sangat kering hingga Jongjin akhirnya memberikanya segelas air putih ke padanya.
“Kau mengalami sebuah kecelakaan 9 hari yang lalu, dan kau koma, hingga akhirnya dokter memutuskan untuk mengadakan operasi pemasangan pen di tangan dan kaki mu 4 hari yang lalu, hingga kini akhirnya kau terbangun.” Jelas Jongjin sambil membantu Yesung untuk duduk di atas ranjang rumah sakit itu.
Kilasan detik-detik sebelum kecelakaan itu mulai kembali ke ingatan Yesung. Dia ingat malam itu dia baru saja kembali dari sebuah perayaan di pesta Halloween yang di selenggarakan oleh temanya, Kim Heechul. Yesung masih mengingat, bahwa Heechul dengan setengah sadar akibat terlalu banyak menegak shoju berpesan, bahwa Yesung harus berhati-hati dalam menyetir karna mungkin saja dia akan menabrak kelalawar. Heechul memang sangat mabuk.
Yesung terus menelusuri ingatanya tentang malam itu. Dia sedang tertawa bersama Kim Ryeweook lewat sambungan telefon saat itu, dan membiarkan satu tanganya menyetir mobil hitamnya. Jalanan malam yang sangat sepi, dengan kabut tebal di depanya membuat Yesung harus menajamkan jarak pandangnya dan tetap mendengar ucapan Ryeweook di sebelah sana.
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali membalas ocehan Ryeweook dan mengaburkan pandanganya terhadap jalanan yang berada di depanya, hingga—
‘BRAAAK!’
“Apakah orang itu selamat?” tanya Yesung dengan panik, dia mulai merasakan nafasnya memburu. Sebelum pelipis-nya terhantam keras dan darah mengalir membasahi wajahnya, dia masih mengingat bahwa dia mendengar jeritan seorang wanita di depan mobilnya yang sudah terbalik menghantam aspal.
Jongjin menatap Yesung dengan dalam, lalu dia menggeleng dengan menyesal. “Dia meninggal di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, tapi pihak keluarganya tidak menuntutmu, setelah mendengar hasil test dari polisi bahwa kau tidak dalam pengaruh alkohol atau apapun. Ini semua murni sebuah kecelakaan.” Jelas Jongjin lagi, berusaha menenangkan Hyung-nya yang kini mulai terlihat panik dan bersalah.
Jongjin mengalihkan pandanganya ke arah jam yang berada di tanganya, “Hyung aku harus pergi, pesawatku ke Jepang akan berangkat dalam 1 jam. Kau tahu  Ibu dan Ayah sangat cerewet jika kita tidak mengunjungi mereka, dan oh tenang saja aku tidak memberitahukan hal ini kepada mereka. Aku tau seberapa menyebalkanya Ibu ketika dia sedang khawatir. Aku bilang bahwa kau sedang berada di dalam perjalanan bisnis mu, menuju Wilemstad. Kurasa kau bisa menghubungi teman-teman mu yang gila itu untuk menemani mu kan?” Jelas Jongjin panjang lebar, sambil merapihkan barang-barangnya dan memasukanya ke dalam koper.
Yesung terdiam mendengar penjelasan dari adik satu-satunya itu, dia masih terlalu shock dan terkejut mendapati bahwa wanita yang di tabraknya tidak bisa terselamatkan. “Hyung?” tanya Jongjin lagi setelah dia tidak mendapatkan jawaban apapun dari Yesung.
Yesung tersadar dari lamunanya kemudian dia mengangguk, “Kau bisa pergi. Aku akan baik-baik saja.” Balas Yesung singkat lalu kembali menyandarkan tubuhnya di atas ranjang itu, Jongjin tersenyum puas kemudian dia menepuk bahu Yesung sebelum akhirnya dia menarik kopernya dan keluar dari kamar itu.
Yesung memejamkan matanya mencoba menrelaksasikan pikiranya dari wanita yang bahkan belum pernah di lihatnya tersebut. Pintu kembali terbuka, membuat Yesung membuka matanya dan melihat tidak ada siapa-siapa di sana. Suara gaduh kembali terdengar dari bawah tempat tidurnya, kali ini dia mencoba tidak menghiraukan suara-suara misterius itu.
Beberapa detik kemudian dia mendengar suara pintu balkon di dalam kamar rumah sakit itu terbuka dengan keras, kali ini Yesung tidak bisa menghiraukan suara-suara itu. Angin menyapu dengan dingin memasuki ruangan ber-cat putih tersebut. Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menarik selang infusnya dan mulai berjalan dengan perlahan, tidak memperdulikan rasa sakit yang berada di tangan dan kakinya ketika dia memaksakan dirinya untuk berjalan ke arah balkon itu.
Gorden putih itu mulai berterbangan setelah angin semakin keras menelusup ke dalam ruangan ini, Yesung menarik nafasnya sebelum akhirnya dia menghentikan langkahnya ketika mendengar sebuah alunan musik yang mengalun lembut. Sebuah musik yang berpartitur dari sebuah music box berwarna titanium dengan ukuran klasik para malaikat yang kini terputar di atas meja kecil yang berada di samping tempat tidurnya.
Music box itu terus berputar seakan-akan ada seseorang yang terus memutar tuasnya agar music box itu terus mengalun, Yesung memutuskan untuk kembali mencari tahu apa yang berada di balik balkon itu. Dia sedikit mengumpat dengan kualitas rumah sakit ini, ketika menyadari bahwa tidak ada penerangan sama sekali di luar balkon itu. Yesung kembali mengumpat ketika rasa sakit di kaki-nya semakin menjadi-jadi, tapi rasa penasaranya menuntutnya untuk tetap berjalan ke arah sana.
Dia bisa melihat sosok seorang wanita yang memunggunginya, rambutnya terurai panjang menutupi hampir seluruh punggungnya. Wanita itu terdengar sedang terisak menangis menutupi wajahnya dengan kedua tanganya, Yesung menarik nafasnya sebelum akhirnya tanganya terulur untuk menyentuh bahu wanita misterius itu, belum sempat Yesung menyentuh bahu itu dia sudah bisa merasakan seseorang mencengkram bahunya dari belakang.
“ARRGGH!” Yesung berlonjak terkejut, seluruh tubuhnya bergetar penuh ketakutan ketika dia membalikan tubuhnya dan melihat seorang suster kini tengah menatapnya dengan bingung.
“Tuan Kim, apa yang anda lakukan di sana? Anda tidak seharusnya menarik selang infus anda dengan paksa.”  Ucap suster itu dengan tegas, lalu menutup pintu balkon dan gorden itu dengan cepat tanpa menghiraukan Yesung yang masih mengatur nafasnya ketika dia sudah tidak bisa menemukan sosok wanita misterius tadi.
Dua orang suster lainya membantu Yesung untuk kembali berbaring di atas ranjangnya, dan memasangkan selang infus ke tanganya. Yesung menolehkan matanya ke arah music box yang sudah berhenti berputar itu, “Apakah kalian tahu, dari mana music box ini berasal?” tanya Yesung setelah melihat para suster itu akan meninggalkan ruangan itu.
Salah satu dari mereka terlihat berpikir sebentar, “Ah, para medis dari instalasi Medical Emergency yang membawa barang itu kemari. Mereka bilang bahwa barang itu terletak tidak jauh dari posisi kecelakaan tuan. Dokter bilang bahwa Tuan Kim bisa pulang besok pagi, setelah menjalani beberapa medical test.” Jelas suster itu sebelum menutup pintu kamar Yesung.
Yesung memejamkan matanya, dia lalu kembali menatap music box misterius itu. Dia tahu, seseuatu meminta pertanggung jawabanya. Tapi dia bahkan masih tidak mempercayai bahwa hal-hal di luar logika itu benar-benar ada.
Dan kini semilir angin kembali menerpa tengkuknya, membuatnya memutuskan untuk memejamkan matanya. Dan berharap bahwa malam ini akan berlalu dengan cepat.

***

“Hyung tapi aku benar-benar harus pulang, bagaimana bisa kau menahan ku untuk menginap di apartemen mu hingga Jongjin kembali dari Jepang?” Ryeweook menatap Yesung, teman baiknya itu yang kini tingkah lakunya seperti orang yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa.
Semenjak keluar dari rumah sakit, Yesung selalu mengundang semua temanya agar menginap di apartement mewahnya tersebut. Dia tidak akan membiarkan dirinya sendirian di dalam sebuah ruangan, karna sedetik saja dia merasakan kekosongan maka music box itu akan berputar secara misterius dan detik berikutnya dia akan mendengar suara isak tangis seorang wanita dari sudut-sudut ruangan.
Yesung sudah mencoba berbagai cara untuk menghilangkan music box tersebut dari hadapanya, dia membuangnya, dia melemparnya, dia membakarnya, dan music box itu akan selalu kembali berada di atas tempat tidurnya dengan misterius. Seakan-akan music box itu tidak pernah puas untuk menghantui kehidupanya.
Yesung tidak pernah menceritakan masalah ini kepada siapapun, dia tahu bahwa semua orang akan menganggapnya gila dan akhirnya orang-orang akan mengirimnya ke pusat rehabilitasi setelah mendengar cerita ini.
“Kau bisa menghubungi ku jika terjadi apapun,” Ucap Ryeweook ketika Yesung mengantarkanya ke depan lift dengan muka ketakutan dan frustasinya. Dia tidak mengerti mengapa Yesung bisa seperti ini, matanya selalu di penuhi oleh bulir-bulir ketakutan dan rasa bersalah yang menghantui wajahnya setiap kali dia terdiam. Tidak jarang, selama beberapa hari Ryeweook menemaninya dia akan menjerit dengan keras dari tidurnya. Dan setelah itu Yesung hanya akan meringkuk penuh takut di balik selimutnya hingga pagi datang.
Yesung berjalan dengan perlahan di dalam apartementnya, dia mengusap wajahnya dengan takut ketika tidak menemukan seorang pun di sana. Langit mulai gelap, ini bahkan masih jam 5 sore tapi awan sudah menunjukan bahwa dia benar-benar menyukai kegelapan.
Matanya kembali terpejam di atas sofa coklat yang membentang di ruang tengah apartementnya. Dia bisa gila, dia tidak tahu mengapa wanita itu terus menghantuinya. Dia bahkan tidak sengaja menabrak wanita itu, dia juga harus ikut terbaring di rumah sakit dan tak sadarkan diri selam 9 hari. Jadi apa yang sosok wanita misterius itu inginkan darinya?
Yesung mulai membuat sebuah asumsi di pikiranya, bahwa mungkin saja selama ini dia hanya berhalusinasi. Bahwa sebenarnya sosok wanita misterius yang selalu menghantuinya itu tidak pernah ada, bisa saja bahwa selama ini dia hanya membuat skenario di bawah alam sadarnya bahwa dia mendengar suara isak tangis seorang wanita dan sosok misterius yang selalu memunggunginya.
Dia bahkan belum pernah melihat wajah dari sosok wanita misterius itu, membuatnya semakin yakin bahwa semua ini hanyalah permainan imajinasinya saja.
Yesung tertawa meratapi kebodohanya selama ini, namun tawa lepasnya tidak bertahan lama setelah music box itu kembali mengalun lembut mengeluarkan dentingan-dentingan musik partitur yang sama.
Yesung merasakan bulu kuduknya mulai meremang ketika dia merasakan nafas seseorang menelusup ke dalam tengkuknya dari belakang. Yesung memberanikan dirinya untuk menoleh ke belakang dengan mata setengah terpejam, dia melihat sosok wanita misterius yang selalu menghantuinya itu kini tengah tersenyum dingin dengan wajah pucatnya dan darah yang mulai mengering di setiap inci tubuhnya.
Yesung merasakan nafasnya terhenti ketika melihat sosok itu mulai mendekatinya, tangan-tangan itu mulai melambai ke arahnya hingga akhirnya dia menyadari sesuatu, bahwa ini bukanlah sebuah lelucuan dari skenario bodoh yang tadi di pikirkanya. Dia harus berlari, meminta pertolongan kepada siapapun sebelum sosok itu membawanya bersamanya.
Yesung berlari dengan kencang dia masih mendengar music box itu terus berputar menghantui pendengaranya, dia terus berlari sekencang yang dia bisa menekan tombol-tombol lift dengan tidak sabar dan akhirnya dia memutuskan untuk berlari melewati tangga darurat.
Nafasnya terengah-engah dan dia akhirnya memutuskan untuk menyandarkan dirinya di antara tangga darurat itu setelah dia sudah tidak bisa melihat sosok itu, tapi nafasnya kembali tercekat setelah dia melihat sosok itu kini tengah terduduk di tangga yang berada di depanya dengan isakan tangisnya yang membuat Yesung berteriak dengan keras.
“ARRRRGHHHH!”
“Yesung Hyung?” suara seseorang akhirnya menyadarkan Yesung dari teriakanya, dia menatap Lee Donghae tetangganya itu kini tengah menatapnya dengan cemas. Donghae memutuskan untuk membawa Yesung ke dalam apartementnya yang tidak jauh dari tangga darurat tersebut, hingga tadi dia bisa mendengar teriakan penuh ketakutan dari Yesung.

***

Terjadi hening yang panjang setelah Yesung mengakhiri kisahnya, Donghae menatap tetangganya itu dengan bingung. Dia bukanya berpikir bahwa Yesung tengah mengada-ngada, justru dia sangat mempercayai semua yang di katakan Yesung.
“Kau bisa menganggap ku gila atau psikopat, jika kau mau.” Ucap Yesung memecah keheningan di antara mereka. Donghae menggelengkan kepalanya, dia kini tengah menganalis hal-hal yang terjadi kepada Yesung karena sejujurnya Donghae adalah orang yang mempercayai bahwa hal-hal supranatural memang ada di dunia ini.
“Tadi kau bilang bahwa music box itu tidak bisa di musnahkan dan akan kembali di tempat yang sama ketika terakhir kali kau melihatnya, Hyung?” tanya Donghae untuk memastikan, yang di jawab oleh anggukan singkat dari Yesung. Donghae menarik nafasnya lalu mulai memutar posisi duduk-nya menghadap ke arah Yesung.
“Aku pernah membaca kisah ini di internet, seseorang yang kembali dari kematianya dan menghantui seseorang yang masih hidup itu berarti tiga hal. Pertama, ada hal yang belum di selesaikanya bersama orang tersebut. Kedua, dia menginginkan sesuatu dari orang tersebut. Dan ketiga, dia ingin menjemput orang tersebut untuk menemaninya di sana. Untuk mu aku bisa menyimpulkan bahwa sosok itu hanya menginginkan music box-nya kembali. Well, kali ini kau yang bisa menganggapku gila, jika kau mau.” Balas Donghae dengan tenang.
Normalnya Yesung akan berkata bahwa Donghae sudah gila, namun di kondisi ini justru dia tengah berpikir bahwa penjelasan Donghae adalah penjelasan yang sangat masuk akal di dunia ini. “Menurut mu seperti itu?” tanya Yesung sambil mengusap wajahnya dengan frustasi, dia ingin sekali semua kegilaan ini berakhir dan dia bisa mendapatkan kehidupan normalnya kembali. Tanpa di hantui oleh rasa ketakutan.
Donghae mengangguk, “Seseorang biasanya mempunyai satu barang yang sangat di cintainya, beberapa orang bahkan memasukan barang-barang kesayanganya ke dalam peti matinya.” Ucap Donghae lagi. Yesung menatap Donghae sebentar, kemudian dia tahu bahwa tidak ada kebohongan atau lelucuan di mata Donghae.
Dia harus mengakhiri semua ini.
Dia harus mengembalikan box music itu.
Secepatnya.

***

Malam itu juga Yesung menghubungi Jongjin untuk meminta nomor telefon dan alamat keluarga wanita malang yang ditabraknya tersebut. Kini dia tengah berdiri di depan sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun terlihat nyaman untuk di pandang, tangan kirinya bergetar hebat ketika membawa music box itu di tanganya.
“Kau tuan Kim?” tanya seorang wanita paruh baya yang tersenyum ramah menyambutnya ke dalam rumah itu. “Anda bisa memanggilku, Yesung.” Jawab Yesung gugup, ketika matanya berhasil menemukan deretan foto seorang wanita yang tersenyum lembut di setiap fotonya. Wajah itu, wajah yang selalu menghantuinya sejak hari dimana dia tersadar di rumah sakit.
“Aku ingin mengungkapkan permintaan maafku sebesar-besarnya terhadap semua yang terjadi, dan aku sangat berterima kasih atas kebaikan kalian dengan tidak menuntut ku atas kecelekaan tersebut.” Ucap Yesung dengan wajah menunduk, dia benar-benar merasakan guncangan bersalah setelah melihat wanita paruh baya itu tetap tersenyum ramah ke arahnya.
“Namanya Song Nara,” ucap wanita paruh baya itu sambil mengambil satu foto ke hadapan Yesung.  “Dia seorang gadis yang pendiam, selama hidupnya dia selalu menghabiskan waktunya sendirian bersama music box ini. Banyak orang yang menganggapnya bahwa dia adalah gadis aneh yang tidak mau bersuara, tapi dia adalah gadis yang baik.” Yesung bisa melihat bahwa wanita paruh baya itu mengeluarkan setetes air mata dari kelopaknya.
“Malam itu, tanpa alasan apapun dia memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Membawa music box yang selalu di mainkanya, dia berdandan dengan sangat cantik membuat semua orang terheran-heran di buatnya. Dan ketika aku bertanya dia hanya menjawab—“

“Aku akan menemukan cinta ku malam ini dan jatuh cinta bersamanya.”

Yesung terdiam mendengar kata-kata itu, “Itu lah kata-kata terakhirnya yang dia ucapkan untuku, dan mungkin itu juga adalah kata-kata terakhirnya yang dia tinggalkan untuk dunia.” Lanjut wanita paruh baya itu dengan air mata yang mulai mengalir.
“Aku ingin mengembalikan langsung music box ini kepada Nara, mau kah anda menemani ku?”  tawar Yesung dengan wajah yang masih menunduk, sekarang dia mengerti mengapa Nara menginginkan music box ini di kembalikan kepadanya. Karena music box ini terlalu berarti untuknya.

***

Malam semakin larut, Yesung berjalan dengan perlahan menyusuri setiap barisan-barisan nisan yang tersusun rapih di sana. Keheningan seakan memberitahukan kepada setiap pengunjung, bahwa ini adalah tempat abadi di mana semua orang tertidur memejamkan matanya dan beristirahat selamanya di pangkuan Tuhan.
Langkah wanita paruh baya itu terhenti di depan sebuah nisan yang masih basah. “Nara sangat menyukai jika orang-orang memperhatikanya,” ucap wanita itu sambil mengusap dengan lembut nisan yang bernama ‘Song Nara’ dia lalu meletakan seikat bunga Dendrobium berwarna keunguan yang selalu di sukai Nara semasa hidupnya.
Yesung hanya berdiri terdiam di sana, langkahnya terasa membeku. Dan kedua tanganya terus bergetar ketika merasakan music box  itu berada di dalam genggamanya. “Kau bisa memulainya sekarang, Nara adalah pendengar yang baik.” Ucap wanita itu dengan senyuman ramahnya, mempersilahkan Yesung untuk berdiri di samping nisan Nara.
Yesung menarik nafasnya sebelum dia memulai kata-katanya, “Nara ini aku Yesung,” dia bisa mendengar rutukan dari rahangnya yang mengatup keras setelah mengucapkan nama wanita itu untuk pertama kalinya.
“Aku sangat menyesal dengan apa yang telah terjadi, aku tahu kau tidak akan memaafkan ku semudah itu. Tapi kau harus tahu, bahwa aku sangat menyesal dan merasa bersalah. Maafkan aku Nara,” bisik Yesung lagi, dia merasakan kehadiran Nara di sini setelah lagi-lagi angin dingin menelusup ke sela-sela tengkuknya.
“Aku tahu kau berada di sini sekarang. Aku ingin kau berhenti menghantui ku, aku ingin kau beristirahat dengan tenang di sana. Aku tahu kau adalah gadis yang baik, aku tahu itu Nara.” Bisik Yesung lagi dengan suara sedikit bergetar.
“Dan aku ingin meminta maaf karna tidak mengembalikan music box ini secepatnya kepadamu, aku benar-benar minta maaf.” Yesung merasakan angin kembali bertiup, mungkin itu adalah jawaban dari Nara.
Yesung akhirnya meletakan music box itu di samping nisan tersebut dengan perlahan, lalu dia mulai memutar tuas-nya hingga box berwarna titanium itu mulai mengeluarkan alunan lembut dari dalam box tersebut.
“Selamat tidur, Song Nara.” Bisik Yesung dengan lembut, sebelum meninggalkan nisan tersebut.

***

Yesung kembali mengehempaskan tubuhnya di atas sofa coklat itu, hari yang benar-benar panjang selama hidupnya. Dia kembali memejamkan matanya, dia benar-benar butuh beristirahat dengan tenang. Kini dia tidak merasakan ketakutan apapun di dirinya lagi, dia tahu semua ini sudah berakhir dan dia bisa melanjutkan hidupnya kembali dengan normal.
Tapi dia berjanji bahwa dia akan menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke rumah Nara atau pusara gadis itu. Hanya untuk menebus rasa bersalahnya kepada keluarga itu dan tentunya kepada seorang gadis bernama Song Nara.
Telfonya berdering dengan keras memecah keheningan di dalam apartement itu, dia melihat layar yang berkelip itu sekilas sebelum mengangkatnya. “Hyung! Bagaimana kabarmu? Besok pagi pesawat ku dari Jepang akan sampai!” suara penuh semangat dari Jongjin membuat Yesung kembali membuka matanya dan tersenyum.
“Yeah, aku baik-baik saja. Sangat baik-baik saja.” Jawab Yesung menekankan kata-kata itu berkali-kali, rasanya dia tidak perlu menceritakan apa yang terjadi di dalam hidupnya selama adiknya berada di Jepang. Dia tahu bahwa Jongjin akan menghujatnya seumur hidup, dengan tawa nya yang menyebalkan. Dan Yesung yakin bahwa tidak akan ada yang pernah mempecayai kisahnya. Kecuali Lee Donghae, besok dia akan berterima kasih kepada pria asal Mokpo itu.
Hyung, kau akan menjemputku kan? Kau harus menjemputku di airport besok! Karna Ibu baru saja membekali kita dengan makanan-makanan tidak penting dari Jepang yang bisa kita temukan di Seoul.” Yesung kembali tertawa mendengar keluhan dari adiknya tersebut, Ibu mereka kadang memang berlebihan tapi mereka sangat mencintai Ibu yang berlebihan dalam segala hal tersebut.
“Baiklah aku akan menjemputmu besok. I’ll see you soon!” ucap Yesung sambil memutuskan telfon itu, dia kembali memejamkan matanya dan dia berencana untuk menghabiskan malam ini dengan tidur di sofa saja. Dia sudah tidak sanggup untuk bergerak pindah menuju kamarnya.
Samar-samar Yesung mendengar sebuah alunan lembut yang begitu di kenalnya, alunan musik yang berpartitur dari sebuah music box. Dia membuka matanya terkejut, dia merasakan semilir angin itu kembali menelusup ke dalam ruangan ini. Angin terus bergerak kencang setelah pintu balkon di dalam apartementnya kembali terbuka dengan keras, gorden-gorden berterbangan.
Yesung seperti merasakan sebuah Deja’Vu ketika dia pernah mengalami kondisi yang sama saat ini. Matanya teralih ke arah meja kecil yang terdapat di samping sofa coklatnya, dia melihat music box itu kembali berada di sana terus berputar mengeluarkan alunan lembut yang begitu terasa mencengkam di telinganya.
Suara isak tangis kembali terdengar dari arah balkon, dia memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya ke arah balkon tersebut. Dan dia melihat kini seorang wanita tengah menutup wajahnya dan menangis, wanita itu menatap ke arah Yesung yang masih membeku di tempatnya berdiri yang hanya berjarak beberapa jengkal dari wanita itu berdiri.
Song Nara menatapnya..
Seorang gadis berwajah cantik dengan senyuman lembutnya, menatap Yesung di antara isakan tangisnya. Tidak ada darah atau wajah pucat yang selalu menghantui Yesung selama ini, hanya wajah sempurnanya yang di lihat Yesung dalam bingkai foto beberapa jam yang lalu.
Song Nara tersenyum lembut ke arahnya..

“…Dan ketiga, dia ingin menjemput orang tersebut untuk menemaninya di sana…”

Seklebat kata-kata Donghae tadi terlintas di pikiran Yesung, sebelum akhirnya yang terdengar hanyalah jeritan panjang dan di akhiri bunyi dentuman yang memilukan.

“ARRRRGGGHHHHHHHH!!!!!”


***



-EPILOG-

-Breaking News-
Kim Jongwoon seorang pengusaha muda di temukan tewas mengenaskan malam tadi, setelah melompat bebas dari balkon apartementnya di lantai 17. Di kabarkan Jongwoon mengalami depresi yang berat setelah insiden kecelakaan yang melibatkan dirinya dan satu orang wanita yang tidak terselamatkan, yang membuatnya di hantui rasa bersalah dan mentalnya yang terguncang hebat menjadi pemicu utama dalam insiden bunuh diri ini.


“…Aku akan menemukan cinta ku malam ini dan jatuh cinta bersamanya…”


-THE END-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar